Selasa, 13 Oktober 2009
Menentukan Visi Menentukan Manajemen
Seberapa pentingkah sebuah visi dalam hidup?
Visi secara sederhana diartikan sebagai tujuan. Apa jadinya jika seseorang berjalan tanpa tujuan? Tapi apakah sebenarnya tujuan itu? Bagaimanakah jika seandainya ada yang beranggapan bahwa tujuan hidup adalah menjalani hidup itu sendiri. Seperti halnya melihat bahwa berjalan adalah tujuan, mungkin tujuan akan ditemukan dalam proses perjalanan yang ditempuh. Sangat naluriah!
Seperti sebuah kebenaran, manajemen juga relatif, bahkan tentatif. Relatif karena sifatnya yang menyesuaikan dan disesuaikan. Tentatif karena mungkin hanya sub bagian tertentu yang akan dipertahankan dalam satu konteks dan relevansinya dengan realitas.
Sebagai sebuah seni, manajemen berbicara mengenai penghargaan dan pemahaman terhadap proses mencerap pengalaman yang tak hanya berkutat pada hal-hal yang cenderung teknis dan mekanistis. Terdapat sublimasi perasaan yang kadang tak bisa dibaca dan diterjemahkan secara teknis dan mekanistis.
Coba kita lihat bagaimana bedanya seorang seniman dan pengrajin memanajemen dirinya dan pekerjaannya. Sesungguhnya kesenian adalah satu ranah intelektual yang “lain”. Kesenian terkadang tak bisa dibandingkan dan dibaca dengan perspektif yang common sense. Hari ini masih banyak seniman yang beranggapan bahwa tujuan berkarya adalah untuk kepuasan batin. Inovasi dan kreatifitas bukan menjadi tujuan, demikianpun juga dengan menjadi kaya dan terkenal.
Berbeda halnya dengan pengrajin yang berpikir bahwa apa yang dibuat hanya sebatas sesuatu yang dibuat untuk dijual. Maka ia berpikir bagaimana caranya hasil kreasinya dikenal banyak orang, laku keras, dsb. Tentu Seniman batik dan pengrajin batik memiliki ideologi yang berbeda bukan.
Contoh lain, seorang pedagang jamu di pasar tradisional atau yang berkeliling membawa bakul gendong, tentu tak dapat dibandingkan dengan Jaya Suprana dengan jamu jagonya. Dalam hal ini keduanya sama-sama bakul jamu. Tapi bukankah mereka mempunyai target pasar yang berbeda, cara berproduksi yang berdeda, cara berjualan yang berbeda, dll. Belum tentu tips sukses ala Jaya Suprana akan berhasil diterapkan oleh si pedagang jamu gendong.
Dari dua contoh di atas dapat ditarik kesimpulan bagaimana relatifnya satu pola dan struktur manajemen dipilih dan diterapkan.
Jaman sekarang siapapun dapat dengan mudah membuat media. Memiliki modal, selesai persoalan. Banyak media bermunculan, banyak pula yang tumbang dalam waktu sesaat. Pasca reformasi banyak media bermunculan, mulai dari koran, majalah, radio, bahkan televisi lokal.
Salah satu kasus yang menarik untuk disimak adalah koran Independen News dan Jimbarwana TV, salah satu koran lokal dan Televisi lokal Pemerintah Kabupaten Jembraba-Bali dengan Winasa sebagai Bupatinya. Kedua media ini banyak mendapat kritik dari banyak pihak sehubungan dengan visinya yang dianggap tidak jelas. Lebih dari 50 persen materi pemberitaan dalam media hanya berisi mengenai Bupati dan segala aktivitasnya dengan berbagai sanjung puji terhadap Bupati.
Program sekolah gratis dari SD samai SMU, fasilitas kesehatan gratis, proyek masa depan destilasi air laut menjadi air tawar adalah sedikit dari program sukses Winasa. Tentu tak menutup mata, banyak proyeknya yang gagal. Termasuk salah satunya adalah koran Independen News. Koran daerah yang dalam salah satu fungsinya seharusnya bisa menjadi satu wadah aspirasi dan otokritik daerah ternyata hanya menjadi komoditas politik. Hampir pada setiap penerbitannya selalu terpampang foto Winasa dengan segala pencitraan positifnya. Sadar atau tidak Winasa telah terjebak pada arogansi politiknya.
Winasa sempat mencalonkan diri menjadi Gubernur Bali, namun gagal. Pada saat itu setiap hari, koran dan tv lokal Jembrana benar-benar berusaha sedemikian rupa mencitrakan Winasa sebagai calon Gubernur yang benar-benar berkompeten. Namun sayangnya Winasa kalah pamor dibandingkan dengan Mangku Pastika.
Mangku Pastika yang begitu didukung Bali Post dan Bali TV tentu mempunyai nilai tawar yang lebih kuat karena esposure dan kualitas Bali Post dan Bali TV jauh lebih luas daripara Jimbarwana TV dan Independen News.
Sadar atau tidak Winasa telah melakukan pivatisati kepemilikan koran Kabupaten. Media lokal yang seharusnya menjadi “milik publik” Jembrana menjadi milik Bupati. Kini Jimbarwana TV sudah tidak siaran lagi, sedangkan Independen news sempat mati dalam beberapa edisi penerbitan. Beginilah nasib media yang lahir hanya dengan dilandasi visi yang kabur. Akhirnya penggelolaannya juga menjadi kacau.
Visi menjadi hal yang paling penting dalam mendirikan dan mengembangkan satu media. Visi akan terlepas dengan benar dan salah. Sepertinya halnya salah satu kerja jurnalisme, bukankah layak berita hanya perkara kandungan nilai berita dan kebijakan seorang redaktur.
Minggu, 11 Oktober 2009
Diskriminasi di Tengah Bencana
Tak perlu dibantah Bencana dahsyat yang mengguncang Padang menjadi bencana bagi Bangsa, bahkan dunia. Terbukti dengan banyaknya bantuan dari berbagai daerah di tanah air dan luar negeri. Mulai dari bantuan bahan makanan, obat-obatan, alat berat, relawan dan tenaga medis berdatangan. Sayangnya banyak juga kendala dan persoalan yang terjadi. Salah satunya adalah mengenai penyebaran bantuan yang belum merata.
Distribusi bantuan yang belum merata ini memunculkan isu diskriminasi terhadap etnis Tionghoa. Tersiar kabar bahwa etnis Tionghoa yang tinggal di kampung Pecinan Pariaman harus membayar sejumlah uang agar dapat memperoleh bantuan. Isu ini semakin kencang ketika tersebar lewat sms, milis, facebook, dll.
Emosi yang tidak stabil akibat tekanan psikologi, shock dan trauma terkadang dapat mendorong manusia berhalusinasi Pada keadaan semacam ini seseorang dapat kehilangan kesadaran kritisnya. Ia merasa lingkungan sekitarnya berbahaya bagi dirinya. Kecurigaan dan prasangka terhadap orang lain, bahkan diri sendiri menjadi sesuatu yang wajar pada kondisi yang seperti itu. Pada tahap selanjutnya seseorang dapat mengalienasi dirinya (ekslusifitas)
Dalam masyarakat yang multikultur, apalagi di tengah kondisi pasca bencana seperti di Padang. Sangat mungkin muncul ekspresi-ekspresi tidak wajar untuk menyikapi persoalan yang terjadi. Muncul orang-orang yang memanfaatkan celah dan keadaan untuk keuntungan diri sendiri atau kelompoknya. Misalnya, bisa saja seseorang nekat mencuri makanan karena kelaparan di tengah bencana atau memanfaatkan distribusi bantuan lainnya untuk kepentingan sepihak. Dengan akses tertentu, siapapun memiliki peluang untuk ini.
Secara geografis kontur Padang penuh dengan jurang, gunung dan lembah yang berliku. Belum lagi banyaknya akses darat terputus, mengakibatkan banyak daerah terisolasi. Wajar jika banyak daerah yang belum mendapatkan evakuasi dan bantuan. Pada kondisi seperti ini seharusnya yang dipikirkan adalah bagaimana bantuan terdistribusi secara maksimal. Isu diskriminasi etnis jelas hanya akan memperkeruh suasana.
Faktanya, bukan hanya saudara kita yang beretnis China yang banyak belum mendapatkan bantuan. Tapi juga daerah-daerah lain, misalnya beberapa dataran tinggi di Pariaman, Pesisi Selatan, ribuan warga Malalak yang nyaris kelaparan, daerah Agam dan berbagai daerah lainnya. Tak perlu disangsikan lagi bahwa distribusi bantuan yang belum merata tidak hanya menimpa warga etnis Tionghoa.
Fakta lebih ironis lagi terjadi di daerah Korong, Sumanak, Lubuk Luweh Kanagaraian Tandikat dan Kecamatan Patamuan yang akhirnya menyetujui lokasi bencaran dijadikan kuburan missal karena sulitnya melakukan evakuasi.
Dalam pasal 28 I dinyatakan bahwa Hak untuk hidup, Hak tidak disiksa, Hak kemerdekaan pikiran-hati nurani, Hak tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut, Hak bebas dari perlakuan diskriminatif, Hak masyarakat tradisional dihormati. Dari sini dapat kita lihat bahwa siapapun berhak mendapatkan perlakukan yang tidak diskriminatif. Pemerintah jelas perlu juga bertindak tegas, melalui aparat yang ada.
Di satu sisi seharusnya bencana dapat menjadi moment pemersatu. Bukankah dalam sejarah Bangsa ini nasionalisme muncul karena empati bersama. Kita harus senantiasa berhati-hati agar tidak termakan isu yang tidak bertanggung jawab. Bukankah lebih penting mencari solusi bagaimana agar bantuan cepat tersebar. Bukankah kemanusiaan di atas segala-galanya. Bahkan melintasi batas kelamin, jender, etnis dan agama.